Sinjai.Info, Sinjai Utara,— Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sinjai menerjunkan tim ke lapangan untuk memitigasi wabah kematian massal yang menyerang ternak ayam kampung di wilayah Kecamatan Sinjai Utara.
Hingga saat ini, laporan resmi mengenai kasus tersebut baru diterima dari wilayah Sinjai Utara, dengan jumlah kematian diperkirakan telah menembus angka lebih dari 300 ekor. Total kerugian materi yang dialami para peternak selama tiga hari terakhir ditaksir mencapai Rp15 juta.
Berdasarkan hasil diagnosa sementara dari dokter hewan setempat, kematian massal ini diduga kuat dipicu oleh wabah Newcastle Disease (ND) jenis patogen atau tetelo ganas yang dapat menyebabkan kematian mendadak dalam skala besar.
“Diagnosa sementara dari dokter hewan adalah penyakit ND atau tetelo yang patogen. Namun, untuk memastikan penyebab pastinya, kami telah mengambil sampel bangkai ayam untuk diperiksa di Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros,” ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sinjai, Syamsul Alam, Kamis (1/10/2026) pagi.

Hasil pengujian laboratorium dari BBVet Maros ungkapnya, diperkirakan akan keluar pada awal pekan depan. Pihak BBVet Maros juga disiapkan untuk melakukan penelusuran (surveillance) langsung ke lokasi jika situasi membutuhkan langkah penanganan lebih lanjut.
Sebagai langkah pencegahan cepat, pihak dinas memperketat prosedur biosekuriti dengan menyemprotkan cairan desinfektan secara menyeluruh pada area kandang yang tertular. Selain itu, ayam yang masih sehat langsung diisolasi dan diberi suplemen vitamin guna meningkatkan daya tahan tubuhnya.
Para peternak dan pekerja juga diimbau untuk selalu menjaga kebersihan, seperti mencuci atau mengganti alas kaki serta pakaian sebelum berpindah ke lokasi lain agar tidak memicu penularan virus secara meluas.
Pihak dinas juga mewajibkan penguburan atau pembakaran bangkai ayam di sekitar area kandang serta melarang keras pembuangan bangkai ke sungai maupun tempat sampah umum.
Pihak dinas meminta para peternak untuk tetap tenang dan tidak panik. Ia menekankan bahwa sejauh ini belum ada indikasi flu burung, sehingga warga diimbau untuk tidak menyebarkan isu yang belum terverifikasi.
“Ternak merupakan salah satu penopang perekonomian masyarakat Sinjai. Kami terus bergerak di lapangan untuk membantu para peternak menyelamatkan sisa ternak mereka dan menekan kerugian lebih lanjut,” pungkasnya. (Adv)
Tim Liputan:
Nurain, Izza, Alif, Zaenal (mahasiswa PPL UIAD Sinjai)