Bahaya Kabut Asap Karhutla, dan Harapan Masyarakat Sinjai

Kolase foto: Mahasiswi UIAD dan tukang ojek di Sinjai berharap kabut asap segera berakhir. (FOTO: tim liputan)

Sinjai.Info, Sinjai Utara,– Fenomena kabut asap yang menyelimuti wilayah Kabupaten Sinjai dalam beberapa hari terakhir mulai dikeluhkan warga. Kabut tebal yang diduga berasal dari kebakaran lahan tersebut membuat kualitas udara memburuk dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Keluhan pertama datang dari Salman, seorang tukang ojek di Sinjai. Ia mengaku pekerjaannya terhambat akibat kabut asap yang mengurangi jarak pandang dan membuat udara tidak sehat.

“Pekerjaan saya terhambat setelah adanya kabut asap ini. Harapan saya kepada pemerintah agar BPBD mencari kejelasan sumber asapnya dan memberikan penanganan yang cepat,” ujar Salman.

Gangguan kesehatan juga dirasakan Yumna Rifdatul Khalisa, siswi SMP Negeri 1 Sinjai. Siswi Kelas IX ini mengungkapkan dirinya merasa sangat terganggu. Akibat udara yang tidak sehat, ia mengalami sesak napas dan mata perih, sehingga kegiatan belajar di sekolah menjadi tidak nyaman.

“Udara menjadi tidak sehat, saya mengalami sesak napas, mata perih, dan belajar jadi tidak nyaman,” keluhnya.

Ia pun berharap pemerintah segera bertindak dengan membagikan masker gratis kepada siswa, melakukan pemadaman di titik sumber api, serta memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak membakar lahan sembarangan.

Hal senada disampaikan Ismawanti, mahasiswi semester lima jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Ahmad Dahlan (UIAD) Sinjai. Ia berharap kondisi udara dapat segera kembali normal.

“Saya berharap udara bisa kembali normal sehingga masyarakat bisa kembali menghirup udara yang segar. Semoga pemerintah segera menindaklanjuti permasalahan kabut asap ini agar kehidupan masyarakat bisa kembali berjalan dengan nyaman dan sehat,” harapnya.

Bahaya Kabut Asap

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sinjai, dr. H. Kahar Anis, Sp.B, menyebutkan bahayanya kabut asap bagi kesehatan, khususnya bagi kesehatan anak-anak, ibu hamil, lansia, dan kelompok rentan lainnya.

“Asap dapat mengganggu saluran pernapasan menjadi Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, asma, bronkitis dan iritasi saluran pernapasan. Juga iritasi mata dan kulit, hingga gangguan jantung dan pembuluh darah,” ungkap Dokter Kahar, sapaan akrabnya.

Ia melanjutkan, semua kelompok usia dapat terkena dampak asap tapi ada kelompok rentan, yaitu bayi dan
Anak-anak, ibu hamil, lansia terutama usia 65 tahun ke atas.

“Penyakit yang dapat memburuk kondisinya akibat asap, yakni memicu serangan asma berat, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), penyakit jantung koroner dan gagal jantung, riwayat stroke dan penyakit pembuluh darah terutama diabetes, hipertensi, dan penyakit kronis lainnya,” terangnya.

Dokter Kahar yang juga Plt. Direktur RSUD Sinjai mengajak masyarakat, menggunakan masker yang tepat jika harus keluar rumah. Kemudian batasi aktivitas fisik di luar ruangan atau pekerjaan luar ruangan yang tidak mendesak.

“Juga memastikan bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit kronis terlindungi dari paparan asap. Penderita asma atau PPOK harus memastikan obat rutin dan obat emergency jika ada serangan. Segera periksa ke puskesmas atau fasilitas kesehatan jika mengalami batuk menetap, mata sangat perih, atau sesak napas,” pesannya.

Hingga Rabu (14/10/2026) pagi, kabut asap dari lokasi kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti sebagian besar wilayah di Kabupaten Sinjai. Jarak pandang mulai berkurang juga mulai dirasakan para pengguna kendaraan bermotor. (ZAR)

Tim liputan:
Alif, Izza, Nurain, Zaenal (mahasiswa PPL UIAD Sinjai)