Dari Keterampilan Menjadi Karya, Kolaborasi Dompet Dhuafa Sulsel dan Tigalapan Dorong Kemandirian

Pelatihan menjahit oleh Dompet Dhuafa salah satu yang diminati oleh para peserta. (FOTO: Panpel)

Sinjai.Info, Makassar,— Tidak semua proses belajar berjalan mudah. Dibutuhkan ketekunan, keberanian mencoba, dan kemauan untuk terus berkembang. Hal inilah yang dijalani para peserta Pelatihan Vokasi Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan sejak 20 Juli 2026 di Tigalapan Kaos.

Program hasil kolaborasi Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan dan Tigalapan Indonesia ini menghadirkan pelatihan menjahit dan sablon. Selain keterampilan teknis, peserta juga mendapatkan pembekalan pengembangan diri, pola pikir bisnis, pemasaran, dan kesiapan membangun usaha.

Hingga memasuki pekan kelima pelatihan, enam peserta menjahit dan lima peserta sablon masih konsisten mengikuti proses pembelajaran.

Pada kelas menjahit, peserta yang sebelumnya telah memiliki kemampuan dasar menggunakan mesin jahit mulai mengembangkan keterampilan melalui proses produksi yang lebih utuh, mulai dari membuat pola, memahami bahan, memotong kain, hingga menyelesaikan pakaian. Dari proses tersebut, peserta telah menghasilkan kemeja, kaos, dan celana.

Salah satu peserta, Haerani, mengaku semakin percaya diri setelah mampu menghasilkan pakaian secara utuh.

“Sebelumnya saya sudah pernah belajar menggunakan mesin jahit, tetapi masih sebatas dasar. Di sini saya belajar lebih banyak, terutama bagaimana menyelesaikan pakaian dari awal sampai selesai. Ketika akhirnya bisa membuat kemeja, kaos, dan celana, rasanya senang karena kemampuan kita ternyata bisa terus berkembang.” ungkapnya.

Peserta pelatihan sablon memperlihatkan hasil karya mereka. (FOTO: Panpel)

Sementara itu, lima peserta kelas sablon mulai memasuki tahap praktik setelah mendapatkan pembekalan dasar kewirausahaan. Mereka belajar membuat desain hingga mengaplikasikannya pada media pakaian.

Bagi Dani, salah satu peserta kelas sablon, pelatihan ini membuatnya melihat keterampilan sablon sebagai peluang usaha.

“Saya tidak hanya belajar tentang sablon, tetapi juga mulai memahami bagaimana keterampilan ini bisa dikembangkan menjadi bisnis. Ketika desain yang kita buat akhirnya tercetak di baju, ada rasa puas karena bisa melihat hasil dari proses yang dipelajari.” tutur Dani.

Nurhasnaini Hasan, selaku Plt. Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan, menyampaikan bahwa keberlanjutan peserta dalam mengikuti proses menjadi bagian penting dari tujuan pemberdayaan.

“Kami ingin pelatihan ini menjadi ruang bagi peserta untuk menemukan dan mengembangkan potensi yang mereka miliki. Ketika mereka mau bertahan dalam proses, terus belajar, dan mulai menghasilkan karya, di situlah kami melihat tumbuhnya kepercayaan diri menuju kemandirian.” terang Nurhasnaini, Rabu (19/8/2026).

Bagi Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan, pemberdayaan bukan sekadar memberikan keterampilan, tetapi juga mendampingi penerima manfaat agar mampu mengenali potensi, membangun kepercayaan diri, dan melihat keterampilan sebagai aset yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha.

Enam peserta menjahit dan lima peserta sablon kini terus bertumbuh melalui proses tersebut. Ada pakaian yang mulai selesai dijahit, desain yang mulai tercetak, dan keberanian yang tumbuh dari setiap proses mencoba.

Sebab keterampilan bukan hanya tentang apa yang mampu dibuat oleh tangan, tetapi juga tentang keyakinan bahwa setiap kemampuan dapat menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih berdaya. (Adv/ZAR)