Sinjai.Info, Sinjai Utara– Rabia tak bisa menahan air matanya saat menceritakan percakapan terakhir dengan anaknya, As’ad. Telepon dari Jakarta itu datang dengan kabar yang tak pernah ia bayangkan: anak keempatnya ditahan pasukan Israel di perairan Mediterania Timur.
“Dia cuma bilang, ‘Ma, kami ditangkap.’ Setelah itu putus. Saya cuma bisa berdoa semoga dia selamat,” ujar Rabia, warga Kelurahan Bongki, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai, Selasa (20/5/2026).
As’ad, 1 dari 9 warga negara Indonesia yang ditahan saat berlayar bersama armada _Global Sumud Flotilla 2.0_ menuju Gaza, Senin (18/5/2026) dini hari. Ia berangkat sebagai relawan delegasi _Global Peace Convoy Indonesia_ bersama Rumah Zakat untuk misi kemanusiaan di Palestina.
Bagi keluarga dan santri di Rumah Tahfizh Alfurqan Bongki, As’ad dikenal sebagai sosok pendiam tapi cekatan.
“Anak itu memang tidak banyak bicara. Tapi kalau ada masalah, dia yang paling tenang menyelesaikan,” kata Rabia.
Rumah Rabia sekaligus menjadi Rumah Tahfizh Alfurqan Bongki, yang dikelola yayasan milik keluarga. Aktivitas hafalan dan penulisan Al-Qur’an tetap berjalan seperti biasa meski kabar penahanan itu membuat suasana rumah duka.
As’ad merupakan anak keempat dari sepuluh bersaudara dan anak pimpinan Yayasan Pendidikan Alfurqan Quranic School. Ia memilih bergabung dalam misi solidaritas untuk warga Gaza meski tahu risikonya besar.
Rabia kini hanya berharap pemerintah Indonesia segera turun tangan membebaskan sembilan WNI yang ditahan, termasuk anaknya.
“Saya minta pemerintah bantu bebaskan anak saya dan teman-temannya. Biar mereka bisa pulang cepat ke keluarga,” ujarnya lirih. (Kari/ZAR)