Sinjai.Info, Sinjai Utara,– Di sebuah kios kecil yang persis bersebelahan dengan Gedung DPRD Sinjai, rak-rak dagangan Sinar (42 tahun) tampak lengang. Bungkus rokok tinggal beberapa, mie instan juga tak seberapa. Bukan karena sepi pembeli, tapi karena modalnya tertahan di tangan para pekerja proyek Sekolah Rakyat yang tak kunjung membayar utang.
Sinar, warga Tanassang, Kelurahan Alehanuae, Kecamatan Sinjai Utara, mengaku piutang para pekerja proyek itu sudah menembus angka empat juta lebih. “Semoga utang tujuh pekerja proyek itu segera dibayar atau ada yang membayarkan,” keluhnya, Minggu (10/5/2026).
Awalnya, kata Sinar, transaksi berjalan lancar. Para pekerja yang membangun Sekolah Rakyat di Tanassang biasa mengambil rokok, mie, dan minuman di kiosnya. Pembayaran selalu tepat waktu. Namun lama-kelamaan, utang menumpuk dan pembayaran macet.
Yang membuat Sinar makin resah, mandor proyek yang mengkoordinir para pekerja kini hilang kontak. “Setiap kali saya chat WA, tidak pernah dibalas. Ditelepon juga tidak diangkat,” ujarnya. Kabar terakhir yang ia dengar, para pekerja itu sudah pulang kampung ke Jawa.
Kios Sinar bukan satu-satunya yang terdampak. Marlina, pengelola katering di Tanassang, mengalami nasib serupa. Utang yang juga dikoordinir salah satu mandor proyek mencapai 20 juta lebih.
Meski meradang, Marlina tetap bertahan. Usaha kateringnya masih berjalan meski dengan modal seadanya.
Bagi Sinar, kios kecil itu tumpuan hidup. Ia hanya berharap modalnya bisa kembali agar usahanya tidak gulung tikar.
Hingga kini, Sinar dan Marlina hanya bisa menunggu kabar baik. Di tengah riuhnya aktivitas di samping Gedung DPRD Sinjai, dua pelaku UMKM itu berjuang agar dapur tetap mengepul dan kios tetap bertahan. (Zainal Abidin)