Profil Masjid Raayatul Hidayah Sinjai, Terdapat Area Makam Imam Timurung

FOTO: Masjid Raayatul Hidayah di Kelurahan Biringere, Kecamatan Sinjai Utara. (ZAR/sinjaiinfo)

Masjid Raayatul Hidayah terletak di lingkungan Biringere, Kelurahan Biringere, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai. Berada di jalur utama, Jalan Persatuan Raya atau poros Sinjai-Bulukumba.

Oleh: Zainal Abidin Ridwan

Masjid ini adalah satu dari beberapa masjid tua yang ada di Kabupaten Sinjai, dan memiliki rekam jejak sejarah penyebaran agama Islam di Kabupaten Sinjai.

Dari tampilan fisiknya terlihat bahwa masjid ini dibangun dengan sentuhan dan gaya bangunan Jawa pada umumnya. Atap dan bangunannya berbentuk limas dan joglo. Kemudian pada bangunan utama terdapat 9 pintu yang saling berdekatan. Angka 9 ini identik dengan jumlah Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di daerah Jawa dan sebagian wilayah nusantara.

Dalam sejarahnya Masjid Raayatul Hidayah adalah masjid dengan kontruksi batu pertama yang dibangun di wilayah Kerajaan Bulo-bulo. Saat itu Bulo-bulo dipimpin oleh Arung ke-36 Baso Daeng Mallongi.

Masjid ini dibangun oleh I Yasafe Daeng Mangawing (kakek dari mantan Rektor UNM alm. Prof H.M. Idris Arief). I Yasafe sendiri adalah cucu dari Daeng Mappuji yang merupakan turunan dari Arung Timurung Bone dan Datu Pammana Wajo.

Masih di area masjid ini, terdapat makam I Yasafe Daeng Mangawing dan kerabatnya. Model bangunan masjid ini tidak berubah sejak pertama kali dibangun. Ada pun penambahan hanya di bagian teras dan sisi kanan kiri masjid.

Makam Ulama di Area Masjid

Semasa hidupnya ulama kharismatik Sinjai K.H. Muhammad Tahir atau Puang Kali Taherong diriwayatkan, kerap berziarah ke makam seorang ulama yang berada di area Masjid Raayatul Hidayah.

Makam tersebut adalah milik gurunya, K.H.Abdurrahman La Tjambang atau akrab dengan nama Imam Timurung. Puang Kali Taherong banyak belajar ilmu agama kepada Imam Timurung.

K.H. Abdurrahman dilahirkan di Sinjai tahun 1837. Ia diberi nama La Tjambang saat lahir. Namun ketika memperdalam ilmu agama Islam di Mekah, oleh gurunya yang bernama Abbas Kararah, nama La Tjambang diganti menjadi Abdurrahman. Ia belajar ilmu agama di Mekah selama 18 tahun, lalu setelahnya kembali ke Sinjai.

Imam Timurung adalah ulama yang menguasai ilmu Tajwid, Nahwu, Sharaf, Tafsir, Fikih, dan Tauhid. (*)