Sinjai.Info, Sinjai Utara,— Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sinjai, Waris, memastikan ketersediaan stok pangan pokok, khususnya beras, di wilayah Kabupaten Sinjai berada dalam kondisi aman dan mengalami surplus melimpah di tengah ancaman puncak musim kemarau.
Berdasarkan laporan neraca pangan per Agustus 2026, ketersediaan pangan di Kabupaten Sinjai mencatatkan angka sekitar 336.000 ton dalam bentuk gabah dan beras. Jumlah tersebut jauh melebihi tingkat konsumsi masyarakat Sinjai yang rata-rata mencapai 2.550 ton per bulan.
“Alhamdulillah, stok pangan kita di Kabupaten Sinjai terjadi surplus. Angka ini menjadi cadangan pangan kita untuk beberapa bulan ke depan,” ujar Waris.
Waris menjelaskan capaian surplus tersebut ditopang oleh keberhasilan panen di sejumlah kecamatan sentra produksi padi, seperti Sinjai Selatan, Sinjai Timur, dan Sinjai Tengah pada periode Juli hingga Agustus lalu. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Sinjai juga mengamankan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) sebanyak 6 ton beras yang menitipkan penyimpanannya di Gudang Bulog.
Potensi pasokan pangan juga diperkirakan terus bertambah seiring masuknya musim panen di Kecamatan Sinjai Borong dan Sinjai Barat.
Meski stok beras tergolong aman, Waris tidak menampik bahwa fenomena kemarau tetap berdampak pada penurunan produktivitas komoditas hortikultura akibat terbatasnya pasokan air irigasi. Minimnya pasokan pengairan memicu lonjakan harga pada sejumlah komoditas strategis seperti cabai, yang merangkak naik dari harga normal Rp30.000 per kilogram menjadi Rp50.000 hingga Rp100.000 per kilogram.
Guna mengantisipasi risiko gagal panen (fuso) pada tanaman padi yang masih memasuki fase vegetatif di kawasan rawan kekeringan, Pemkab Sinjai bersama Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) bergerak cepat menempuh langkah mitigasi.
“Kami berkoordinasi dengan pemerintah provinsi serta BPBD untuk memfasilitasi bantuan armada pompanisasi. Bantuan pompa alkon hingga pompa celup telah disalurkan ke kelompok tani di Sinjai Barat dan Sinjai Borong guna memanfaatkan sumber air permukaan dan sungai untuk pengairan sawah,” tambahnya.
Pihaknya juga mengonfirmasi hingga saat ini belum ada wilayah atau kecamatan di Kabupaten Sinjai yang masuk dalam kategori rawan pangan. Penentuan status rawan pangan membutuhkan serangkaian indikator lintas sektor yang komprehensif, mulai dari sektor pertanian hingga kondisi infrastruktur kesehatan masyarakat. (Adv)
Tim Liputan:
Alif, Izza, Nurain (mahasiswa PPL UIAD Sinjai)