Dipandu Kadisparbud, Laha Bete Tampil di Panggung Rock In Celebes

Kadisparbud Sinjai Andi Mandasini, memperkenalkan Laha Bete sebagai makanan khas Kabupaten Sinjai di panggung Rock In Celebes 2026. (FOTO: dok/pribadi)

Sinjai.Info, Makassar,– Festival musik tahunan Rock In Celebes (RIC) kembali menghadirkan ruang pertemuan antara musik, seni, tradisi, dan kehidupan masyarakat kontemporer. RIC edisi ke-17 ini dipusatkan di Benteng Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan, 31 Oktober hingga 1 November 2026.

Acara ini mengusung tema “The Culture”. Tema ini menegaskan komitmen panitia dalam melestarikan warisan budaya, dan mengampanyekan prinsip keberlanjutan lingkungan.

Kegiatan ini dihadiri pula Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (disparbud) Kabupaten Sinjai, Andi Mandasini. Bukan sekadar hadir menyaksikan, namun Kadisparbud Sinjai tampil di panggung utama untuk menjelaskan ke pengunjung mengenai makanan khas Kabupaten Sinjai, yakni Laha Bete yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia atau WBTBI.

“Alhamdulillah Laha Bete sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia ditampilkan di panggung Rock In Celebes. Diperagakan  langsung pembuatannya oleh ibu Risda dan ibu Yani. Tidak gampang tampil di panggung ini, karena semua WBTBI harus melalui proses kurasi oleh panitia. Setelah Laha Bete yang bahan dasarnya adalah ikan teri selesai dibuat, langsung dibagikan kepada para pengunjung yang sangat antusias,” ucap Andi Mandasini, Sabtu (31/10/2026) malam.

Andi Mandasini berharap, Laha Bete makin dikenal sebagai salah satu identitas budaya dan WBTBI dari Kabupaten Sinjai. “Dengan tampil di panggung ini kami berharap, Laha Bete makin dikenal sebagai salah satu identitas budaya,” harapnya.

Nuansa kebudayaan Sulawesi Selatan memang menjadi perhatian utama dalam penyelenggaraan tahun ini. Sejumlah penjaga warisan budaya menampilkan kekayaan tradisi, khususnya warisan budaya takbenda, melalui pertunjukan, gelar wicara, demonstrasi, pemutaran video, hingga pameran.

Berbagai tradisi yang diperkenalkan antara lain Laha Bete yang tampil di hari pertama, kemudian ada Maudu Lompoa, Kapurung, Passura, Salonreng, Pa’piong, Sop Saudara, Badik, Pa’gellu’, dan Séré Bissu. Kehadiran ragam tradisi tersebut menjadi upaya memperkenalkan sekaligus menjaga keberlangsungan identitas budaya lokal kepada generasi masa kini. (ZAR)