Sinjai.Info, Sinjai Utara,— Siang yang terik di Kecamatan Sinjai Utara, di bilangan Jalan Jend. Sudirman, Kamis, 27 Agustus 2026. Dari balik sebuah mobil minibus, asap tipis mengepul. Di atas kompor, wajan besar berisi gula sudah mendidih.
Ida mengaduknya perlahan. Lengannya kuat, sesekali ia mengelap keringat yang membasahi pelipis. Sendok kayu panjang di tangannya tak berhenti berputar. Di sebelahnya, beras yang sudah dibrondong mengembang putih, siap dicampur.
Tak jauh dari situ, Diyat berdiri di depan dua kotak kayu segi empat ukuran 1×1 meter. Di tangannya sebilah pisau besar. Begitu adonan gula dan brondong dari wajan dituang ke papan kayu, ia langsung meratakannya, memadatkannya, lalu memotong-motong jadi persegi kecil sebelum mengeras. Ketukan pisau ke kayu terdengar ritmis: tak… tak… tak…
Beberapa ibu-ibu duduk di kursi plastik, sabar menunggu. Ada yang bawa bahan sendiri, ada yang pesan “terima jadi”. Mereka langganan. Sudah hafal jadwal Diyat dan Ida keliling.
“Buat pesanan tiga adonan ya Pak. Satu wijen, satu kacang,” kata Ibu Anti, salah satu pelanggan.
Diyat dan Ida bukan orang Sinjai asli. Mereka dari Desa Bontobangun, Kabupaten Bulukumba. Sudah lebih 3 tahun mereka berdagang keliling.
Dulu profesi pertama Diyat adalah peternak ayam petelur. Tapi usaha itu tidak berlanjut. Modalnya habis, sisa kredit masih menumpuk.
“Dari hasil jipang ini kami bayar sisa kredit yang kami pakai saat membiayai usaha ayam petelur,” ujar Diyat sambil terus memotong jipang.
Ida mengangguk di balik kepulan uap wajan. “Biaya sekolah anak juga dari usaha ini,” tambahnya. Mereka punya dua anak, keduanya masih kelas 3 SD.
Awalnya mereka berjualan menunggu di rumah. Sepi. Pembeli jarang datang.
“Kalau menunggu di rumah susah dapat pembeli. Makanya kami punya ide menjadi pembuat jipang keliling sejak 2024,” cerita Diyat.
Sejak itu mereka pakai mobil keliling. Ada pesanan lewat HP, langsung meluncur. Di mana saja asal bisa dijangkau kendaraan. Sinjai Utara jadi langganan tetap. Kadang sampai ke Kecamatan Bulupoddo. Kalau pesanan banyak, mereka harus antre.
30 Ribu untuk Tenaga, 75 Ribu Terima Jadi
Cara jualannya sederhana. Ada dua sistem. Kalau pelanggan bawa bahan sendiri, beras, gula pasir, gula merah, dan minyak, maka Diyat dan Ida hanya menarik ongkos kerja Rp30 ribu per satu adonan. Kalau mau terima jadi, harganya Rp75 ribu per adonan.
Bahan utamanya memang hanya itu: beras yang dibuat mengembang atau dibrondong, gula pasir, gula merah, dan minyak. Tapi kuncinya ada di tangan.

Setelah berondong dicampur karamel panas, adonan cepat-cepat dituang ke papan kayu. Sebelum mengeras, Diyat harus sigap memadatkan dan memotongnya. Lambat sedikit, jadi keras dan susah dipotong.
Ida bertugas meracik rasa. Sesuai pesanan pelanggan, adonan bisa ditabur topping kacang, wijen, atau coklat. Setiap topping punya cita rasa sendiri. Yang suka gurih pilih wijen. Anak-anak biasanya minta coklat.
“Ribet memang, tapi alhamdulillah berkah,” kata Ida.

Jipang: Camilan Perantau dari Tiongkok
Jipang yang mereka buat bukan makanan baru. Ini camilan rakyat yang sudah lama dikenal di Indonesia.
Dari Wikipedia, kata “Jipang” diserap dari bahasa Hokkien, yakni Bi-phang yang berarti “beras yang harum atau wangi”, merujuk pada penganan dari brondong beras. Karena asimilasi bahasa, kata Bipang berubah menjadi Jipang.
Dulu para perantau asal Tiongkok yang datang ke Indonesia memperkenalkan jipang sebagai camilan. Beberapa usaha pembuatannya masih bertahan hingga kini, diwariskan turun-temurun.
Di setiap daerah caranya beda-beda. Di pabrik besar, beras dipanggang dengan kompor gas bertekanan tinggi. Tapi Diyat dan Ida masih pakai cara tradisional: wajan besar, api kompor, dan tenaga.
Di Kabupaten Sinjai sendiri, jipang masih jadi camilan khas saat momen tertentu, terutama Lebaran. Tapi karena Diyat dan Ida keliling, sekarang warga bisa pesan kapan saja.
Harapan di Balik Wajan Besar
Sudah hampir dua jam mereka bekerja. Satu mobil, satu wajan, dua papan kayu. Itu saja modalnya. Tapi dari situlah kehidupan 4 orang di keluarga mereka bergantung.
Diyat menyalakan mesin mobil. Ida mengumpulkan peralatan. Mereka bersiap ke lokasi lain. Mungkin ke pasar, mungkin ke rumah pelanggan yang pesan via WhatsApp.
Di tengah ramainya camilan pabrikan, pasangan suami istri ini memilih bertahan dengan cara lama. Mengaduk gula sampai lengket, memotong adonan sebelum keras, dan mengantarnya langsung ke tangan pembeli.
Karena bagi Diyat dan Ida, jipang bukan cuma soal beras dan gula. Ini soal kredit yang lunas, soal biaya sekolah yang terbayar, dan soal harapan bahwa dari wajan besar di bak mobil, rezeki akan terus mengalir. (Zainal Abidin)