Ketika Layang-layang Membangkitkan Kenangan – Sinjai Info
Info Desa

Ketika Layang-layang Membangkitkan Kenangan


  Minggu, 12 Agustus 2018 8:33 am

Sekretaris Disparbud Sinjai, M. Safri Sehu saat mencoba menerbangkan layang-layang milik peserta Festival Mappasajang (foto: ZAR/sinjai info)

Kamu bisa memainkan Layang-layang untuk belajar mengontrol kehidupan. Kamulah yang memutuskan seberapa tinggi layanganmu. Untuk membuatnya terjerembab juga ada di tangan kamu. Namun selain itu, Layang-layang juga media membangkitkan kenangan.

Liputan: Zainal Abidin Ridwan

Hari Minggu (12/08/2018) pagi. Jarum jam menunjuk angka 10.45 wita. Langit di Kecamatan Sinjai Timur tampak cerah. Angin bertiup sedang, namun itu sudah cukup membuat kantuk. Terlebih jika berada di Bukit bernama Vandiam, Desa Sanjai, Kecamatan Sinjai Timur. Namun pagi itu tidak ada kantuk. Yang ada mata melek, benang, Layang-layang, dan orang-orang yang berteriak ‘Anjongngi’ lalu dengan mata terbuka sesekali memicing memandangi langit biru.

Langit di Puncak Bukit Vandiam pagi itu memang menjadi primadona. Ada ratusan warga Desa setempat dan juga warga dari Kecamatan Sinjai Utara datang menyaksikan 30 Layang-layang yang membelah langit Bukit Vandiam. Layang-layang tersebut dikendalikan oleh peserta Festival Mappasajang atau Festival Bermain Layang-layang.

Bentuk Layang-layang yang diterbangkan cukup unik. Ada yang berbentuk Burung Hantu, Perahu Pinisi, hingga Layang-layang bermotif Bendera Merah Putih. Jadi wajar ketika para pengunjung Bukit Vandiam rela berpanas-panas dan berusaha menahan kantuk hanya untuk menyaksikan keindahan Layang-layang saat diterbangkan angin.

Festival Mappasajang baru kali pertama digelar di Sinjai. Penggagasnya adalah sekelompok pemuda di Desa Sanjai yang menamakan dirinya Komunitas Vandiam. Meski baru pertama namun respon positif berdatangan. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sinjai memujinya. Pemerintah Desa Sanjai mengagumi kegigihan Pemuda di Desanya, dan warga setempat terhibur.

“Saya terakhir bermain Layang-layang sekitar tahun 1980-an. Ketika mendengar ada Festival Mappasajang di Bukit Vandiam, saya lalu tertarik untuk mendaftarkan diri,” kata Firman, warga Desa Sanjai yang saat ini berusia 47 tahun. Ketertarikan yang sama diutarakan Baharuddin, 48 tahun. Warga Desa Sanjai ini mengaku Ayahnya dulu adalah pembuat Layang-layang di Desanya.

“Desa Sanjai itu terkenal dengan Layang-layangnya. Bahkan Ayah saya dulu dikenal di Dumme Desa Sanjai sebagai pembuat Layang-layang. Olehnya itu ketika ada festival Layang-layang, saya langsung ingat almarhum Ayah saya,” kata Baharuddin yang menerbangkan Layang-layang jenis ‘Fasajang Merra’ pada Festival Mappasajang.

Layang-layang bukan sekadar permainan. Benda bertulang kayu ini juga adalah kenangan. Membangkitkan kenangan, kata Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (disparbud) Kabupaten Sinjai, M. Safri Sehu. “Saat kecil dulu saya tidak hanya suka menerbangkan layangan. Yang seru selain bermain Layang-layang adalah memburu Layang-layang putus terutama saat ada lomba. Bahkan kaki saya pernah berdarah tertusuk pecahan kaca saat berburu layangan,” kata Sekretaris Disparbud mengenang masa kecilnya usai membuka acara Festival Mappasajang.

Ia tidak hanya mengenang. Usai membuka acara ia menyampaikan harapan agar festival yang sama bisa menjadi agenda tahunan. “Kalau pihak Pemda khususnya Dinas Pariwisata siap bekerjasama, maka kami dari pihak Desa juga siap menjadikan kegiatan ini sebagai even tahunan. Kalian lihat sendiri bagaimana warga kami sangat antusias datang dan berpartisipasi pada lomba ini,” harap Kepala Desa Sanjai, Muh. Arsal.

Dari catatan panitia, Kepala Desa Sanjai juga terdaftar sebagai peserta lomba. Namun sayang, Layang-layang miliknya belum mampu merebut juara pada Festival Mappasajang kali ini. “Juaranya berasal dari Kecamatan Sinjai Utara yang menerbangkan Layang-layang Burung Hantu,” kata Ketua Panitia, Ahmad Ishak.

Keuletan anak-anak muda di Desa Sanjai khususnya yang bergabung di Komunitas Vandiam tidak boleh padam atau dipadamkan. Mereka perlu diberi ruang yang lebih luas untuk menunjukkan kreativitas mereka. Anak-anak muda kreatif di Desa adalah aset. Mereka turut menentukan maju mundurnya pembangunan di Desa, hingga berperan menentukan ramai dan sepinya ruang-ruang publik di Desa. Anak-anak di Komunitas Vandiam adalah kontrol, seperti peserta Festival Mappasajang yang mengontrol penuh rendah dan tinggi Layang-layangnya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

PT. Puzacha Utama Mandiri ©2015-2018 I All Right Reserved

To Top