hari jadi hari jadi
Wisata

Mallenreng, dari Rawa Menjadi Pantai Pendulang Rupiah


  Senin, 7 September 2020 9:57 pm

Awalnya hanya rawa-rawa. Namun karena naluri kepala desa dan kreativitas warganya, tempat tersebut berubah menjadi objek daya tarik wisata yang mulai dipadati pengunjung. Namanya Pantai Mallenreng.

Laporan: Zainal Abidin Ridwan

Pantai Mallenreng terletak di Desa Panaikang, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai. Hanya berjarak sekira 10 kilometer dari Kecamatan Sinjai Utara, Ibukota Kabupaten Sinjai.

Lokasinya mudah diakses karena berada di jalan poros Kabupaten Sinjai – Kajang, Kabupaten Bulukumba. Tak jauh dari kantor desa dan Mapolsek Sinjai Timur.

Pantai Mallenreng menjadi salah satu objek daya tarik wisata di Kabupaten Sinjai yang akhir-akhir ini dipadati pengunjung. Terutama saat hari libur seperti Sabtu atau Minggu.

Papan nama Pantai Mallenreng adalah salah satu spot foto yang disenangi para pengunjung. (foto: ZAR/sinjaiinfo)

Menjadikan lokasi tersebut sebagai pantai yang menarik bagi wisatawan lokal bukanlah hal mudah. Butuh inovasi dan kreativitas. Terutama dari perangkat desa dan warga di sekitar lokasi.

Kepala Desa Panaikang, Bahtiar, mengakui pentingnya pelibatan masyarakat dalam memikirkan konsep dan aplikasinya di lapangan. Ia mengingat betul perjuangannya bersama warga dalam menata lokasi tersebut.

“Ide awalnya, sebenarnya kita mulai dari ketidaksengajaan. Saat itu yang kita perbaiki adalah empang masyarakat dengan membangun pengairan di dekat pantai. Tetapi setelah kita lihat ternyata ada potensi, akhirnya kami dari pemuda-pemuda yang ada di sini mengadakan pertemuan, forum diskusi untuk coba-coba bagaimana kita kembangkan ini,” kenang Bahtiar, saat ia belum menjadi kepala desa.

Akhirnya saat diamanahi menjadi kepala desa, ia perlahan berupaya mewujudkan mimpinya, menjadikan area Pantai Mallenreng menjadi objek wisata. Bersama warga, rawa-rawa yang berada di area pantai ditutup lalu diratakan.

“Ada sekitar empat tahun kami rintis. Dulu ada rawa dan lubang-lubang. Kami benahi setiap hari minggu bersama masyarakat untuk tutup dan ratakan,” ungkapnya.

Setelah rawa tertutup, area pantai tersebut bertambah luas. Sehingga sejak empat tahun lalu area pantai yang berada di Dusun Bangkoa, ini kerap dijadikan lokasi camp dan outbond oleh organisasi kepemudaan.

Bahtiar yang kerap ke Pantai Mallenreng saat ada kegiatan pemuda atau organisasi, melihat bahwa ada peluang lain di pantai tersebut. Bukan sekadar lokasi camp atau diksar.

Akhirnya di awal tahun 2020 ia mengajak beberapa anak muda di desanya, mendesain tata letak dan properti untuk mempercantik area pantai.

“Bahkan ada beberapa anak muda saya bawa ke Kabupaten Bone, jalan-jalan ke salah satu warkop. Tujuannya untuk menginspirasi mereka. Akhirnya konsep warkop atau kafe ini kami padukan dengan fasilitas lain di Mallenreng,” ungkapnya.

Pengelolaan kafe di Pantai Mallenreng diserahkan sepenuhnya ke warga desa. Ini agar masyarakat di sekitar lokasi merasakan dampak positif keberadaan objek wisata di wilayah mereka. Terutama manfaat dari sisi ekonomi.

Mereka hanya dibebani biaya sewa kios Rp2 ribu per hari. Tarif yang sangat murah. Biaya sewa tersebut menjadi pendapatan asli desa. Ada 10 kios atau kafe yang dibangun pemerintah desa di lokasi tersebut.

Kafe yang berdiri pada salah satu sisi Pantai Mallenreng, menyiapkan aneka makanan/minuman. Kafe ini dikelola masyarakat di sekitar pantai. (foto: ZAR/sinjaiinfo)

Selain mengandalkan sewa kios atau kafe, pendapatan desa dari Pantai Mallenreng juga berasal dari sewa fasilitas seperti gazebo, toilet, tempat parkir, hingga sewa payung dan tikar.

Khusus tempat parkir, pendapatannya cukup menjanjikan. Saat hari libur bisa mencapai 500 hingga 700 ribu. Sementara di luar hari libur, antara 100 hingga 200 ribu.

“Semua aktivitas di Pantai Mallenreng, termasuk pengelolaan retribusi diatur berdasarkan Peraturan Desa atau Perdes nomor 1 tahun 2020, pengelolanya sudah di SK-kan. Namun kedepannya kami akan melibatkan Bumdes untuk mengelolanya,” terang Bahtiar.

Target Menjadi Desa Mandiri

Pantai Mallenreng tidak dibuka untuk umum selama masa pandemi covid-19. Nanti pada akhir Agustus 2020, setelah ada edaran pemerintah daerah tentang pembukaan objek wisata, pantai ini langsung dipadati wisatawan domestik.

Kendati mulai menghasilkan rupiah, Kepala Desa Panaikang tak ingin jemawa. Beberapa kekurangan ia tambal, meski harus bertahap.

Pada bibir pantai terdapat wahana bermain. Salah satunya ayunan. Tampak beberapa anak memanfaatkan fasilitas ini. (foto: ZAR/sinjaiinfo)

“Jumlah toilet masih kurang. Jalan masuk juga perlu diperbaiki. Selain itu belum ada tiang listrik ke arah pantai. Tempat sampah juga masih harus ditambah. Perlu bantuan karena anggaran Desa sangat terbatas,” bebernya.

Mengenai sampah di area pantai, Bahtiar mengaku para pengelola kafe yang kerap membersihkan, dan dilakukan saat pengunjung mulai berkurang. Pembersihan dilakukan secara rutin.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sinjai, Haerani Dahlan, pada suatu kesempatan mengatakan kepada Kepala Desa Panaikang agar betul-betul memerhatikan aspek kebersihan pantai.

“Saya katakan bahwa persoalan sampah harus menjadi perhatian. Ini agar pengunjung merasa nyaman dan betah berlama-lama. Selain itu juga agar objek wisata bertahan lama,” tulis Kadis Pariwisata dan Kebudayaan, Minggu, baru-baru ini.

Usul senada disampaikan pengunjung Pantai Mallenreng, Aryanti Mahrik. Namun Ia berharap warga atau pengunjung tidak membuang sampah sembarangan, khususnya di daerah pantai.

Selain Aryanti, pengunjung lainnya, Astini Latif, mengapresiasi terobosan yang dilakukan Pemerintah Desa Panaikang. Pantai Mallenreng, ungkapnya, sangat cocok sebagai lokasi acara keluarga.

“Kalau bisa ada booth atau stan kerajinan khas daerah atau hasil karya lokal, baik berupa souvenir maupun baju kaos cetak logo atau tulisan Mallenreng,” usul Astini.

Pengelola Pantai Mallenreng terus berbenah. Beberapa kekurangan perlahan dibenahi, baik dari segi sarana dan prasarana, juga soal promosi dan pemasaran.

Kepala Desa Panaikang optimis, desa yang ia pimpin mampu menjadi Desa Mandiri setelah menyandang predikat Desa Maju. (*)

Berita Populer

To Top